Pembicara seminar Soft Skill dan Spiritual Skill Pustakawan dalam Layanan Prima Perpustakaan di ISI Surakarta
Pembicara seminar Soft Skill dan Spiritual Skill Pustakawan dalam Layanan Prima Perpustakaan di ISI Surakarta

Rotmianto, seorang pustakawan berprestasi terbaik peringkat kedua tahun 2015 versi Perpustakaan Nasional mengungkapkan bahwa spiritual skill sangat diperlukan bagi pustakawan. Apabila pustakawan hanya berbekal hard skill dan soft skill saja maka kurang lengkap sebagai pustakawan yang berliteret teknologi. Akan lebih sempurna lagi bila dilandasi spiritual skill dalam memberikan pelayanan.

Melihat pentingnya spiritual skill bagi pustakawan, UPT Perpustakaan Universitas Tidar ikut serta berkontribusi dalam acara di Institut Seni Indonesia Surakarta yang menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema Soft Skill & Spiritual Skill Pustakawan dalam Layanan Prima Perpustakaan. Seminar yang diselenggarakan pada 21 September 2016 ini dalam rangka Dies Natalis ke-52 ISI Surakarta. Perpustakaan Untidar mengirimkan dua perwakilan sebagai peserta sekaligus menjadi penulis dalam prosiding yaitu Dr. A. Sri Haryati, M.Pd (download makalah: Soft Skill dan Spiritual Skill Pustakawan dalam Layanan Prima Perpustakaan) dan Dicki Agus Nugroho, S.Hum (download makalah: Pentingnya Spiritual Skill bagi Pustakawan dalam Pelayanan Perpustakaan).

peserta seminar Soft Skill dan Spiritual Skill Pustakawan dalam Layanan Prima Perpustakaan di ISI Surakarta
peserta seminar Soft Skill dan Spiritual Skill Pustakawan dalam Layanan Prima Perpustakaan di ISI Surakarta

Kompetensi pustakawan dalam melaksanakan sebuah pekerjaan tidak hanya didukung secara teknis atau hard skill saja lho, namun dibutuhkan keterampilan lain yang bersifat non teknis, berupa soft skill dan spiritual skill yang mendukung. Kedua keterampilan tersebut erat kaitannya dengan kepribadian seseorang yang menjadikan seorang karyawan prima dalam bekerja. Karyawan yang prima mampu menciptakan hubungan baik bagi pemustaka atau pengunjung perpustakaan.

Kemampuan soft skill dan spiritual skill menjadi bagian dalam pencapaian tujuan keberhasilan penyelenggaraan layanan prima di perpustakaan idaman kami di Untidar. Seluruh jajaran staff perpustakaan dan pustakawan di Universitas Tidar mencermati pemustaka atau mahasiswa Untidar termasuk kategori Net Generation. Generasi Net adalah manusia yang begitu lahir telah mengenal teknologi sehingga memiliki karakter tersendiri. Karakter tersebut telah membuktikan perubahan kebutuhan dan model pencarian pemustaka seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Perkembangan ini juga menuntut perpustakaan dan pustakawan di dalamnya untuk mengikuti karakter pemustakanya ketika memberikan pelayanan.

Pembukaan Seminar ISI Surakarta
Dr Muhammad Rohmadi, S.S, M.Hum, dua dari kanan, H Sokhibul Anshor, S.Sos, M.Hum, kiri, dalam Pembukaan Seminar ISI Surakarta

Kepala Perpustakaan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Dr Muhammad Rohmadi, S.S., M.Hum, pembicara dalam SemNas mengungkapkan bahwa pustakawan memiliki hal yang tidak dimiliki oleh teknologi, yaitu sopan dan santun. Itulah modal awal supaya pemustaka tidak berpaling dari perpustakaan kepada teknologi mesin pencari.

Pembicara yang seorang motivator ini juga memberikan satu tips mudah mengawali hari untuk menciptakan pelayanan prima. “Rumusnya sederhana yaitu dengan rumus 228. Artinya senyum ikhlas, dua sentimeter ke kiri, dua sentimeter ke kanan, dan delapan detik mengembang.” Tutur beliau sambil mempraktekkan senyum khasnya yang membuat semua peserta tertawa terpingkal-pingkal.

Foto Bersama Seminar ISI Surakarta
Foto Bersama Seminar ISI Surakarta

Pembicara dalam Seminar Nasional ini, yakin betul pentingnya soft skill dan spiritual skill bagi pustakawan. Sebagai contoh, Perpustakaan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya telah memahami betul pentingnya spiritual skill bagi pustakawan. Dalam membangun layanan perpustakaan dibutuhkan keberanian dan komitmen untuk berubah. Tentunya berubah untuk menjadi lebih baik melalui spiritualitas. Langkah yang dilaksanakan Perpustakaan ITS adalah menerapkan membangun spiritual skill pustakawan dengan cara (1) melakukan Siraman Rohani atau pengajian yang dilaksanakan setiap hari jumat minggu terakhir setiap bulannya. Materi yang disampaikan adalah tentang kehidupan sehari-hari termasuk menjadi pustakawan yang bermanfaat sehingga bisa dipraktekkan dalam memberikan pelayanan perpustakaan. (2) Melakukan pencerahan pagi setiap hari kecuali hari jumat. Tujuan kegiatan rutin ini adalah untuk mengisi pikiran dengan hal-hal positif sehingga diharapkan bisa dipraktekkan ketika memberikan pelayanan perpustakaan.

Foto Bareng acara Seminar ISI Surakarta Perpustakaan Universitas Tidar dengan Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Magelang (kiri) di Foto Booth
Foto Bareng acara Seminar ISI Surakarta antara Dicki Agus Nugroho, kanan, Dr A Sri Haryati M.Pd, tengah, perwakilan Perpustakaan Universitas Tidar dengan perwakilan Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Magelang, kiri, di Foto Booth

Seorang pustakawan hebat sebagai pembicara pertama, H Sokhibul Ansor, S.Sos, M.Hum, dari Universitas Negeri Malang, senada dengan Bapak Rohmadi, langkah pustakawan selanjutnya harus berlatih diri dengan kesadaran dan kreatif. Latihan tersebut adalah (1) berlatih kemampuan berkomunikasi yang membuat pemustaka selalu kembali lagi ke perpustakaan, (2) berlatih membangun hubungan interaksi dengan pemustaka, (3) berlatih kemampuan memotivasi diri, (4) berlatih memampuan memasarkan diri, (5) berlatih bernegosiasi, (6) berlatih kemampuan berbicara di depan umum, (7) berlatih kemampuan merubah diri, (8)berlatih kemampuan merubah keyakinan diri sendiri, (9) berlatih kemampuan mengatur merubah diri sendiri, (10) berlatih berfikir kreatif, dan (11) berlatih memahami tujuan hidup. Tidak ketinggalan pula berlatih tentang The Power Spiritual Intelligence bagi pustakawan.

Sependapat dengan kedua pembicara, Dr. A. Sri Haryati, M.Pd, Kepala UPT Perpustakaan Untidar, menyatakan bahwa perpustakaan sebagai tempat pelampiasan mahasiswa ‘judek’ (buntu pikiran) pasca aktivitas perkuliahan. Maka personal pustakawan harus senyum dan prima menyambut kehadiran mahasiswa yang membutuhkan rileksasi di Perpustakaan Untidar. Sehingga mahasiswa tetap nyaman dalam mencari informasi di perpustakaan. Begitu pula perpustakaan diharapkan sebagai The Third Place. The Third Place adalah tempat dimana seseorang bisa “lari” sejenak dari kejenuhan kehidupan sehari-hari, namun sebagai tempat menghabiskan waktu untuk tuntutan profesi orang tersebut dengan gaya informal.

Foto bareng dengan pembicara seminar ISI Surakarta
Foto bareng dengan pembicara seminar ISI Surakarta,

 

 

BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY