Universitas Ubaya merupakan perguruan tinggi top 19 Peringkat Web Repositori di Indonesia. Tak salah, Untidar berusaha mengejar Ubaya menjadi mitra selama tiga tahun ke depan untuk mengembangkan Repositori UPT Perpustakaan Untidar. “Ini MoU kedua setelah Universitas Sebelas Maret Surakarta tentang pengembangan repositori”, tutur Ginanjar Kurniawan, Pustakawan Untidar.

Belajar Repositori Demi Riset Kini dan Nanti adalah tema yang diusung Perpustakaan Untidar ketika bertolak ke Kota Pahlawan, Surabaya. Seorang Pustakawan Ubaya, Amirul Ulum, mengungkapkan bahwa sebelum membangun repositori maka perlu dibuat pondasi terlebih dahulu. Ada 2 poin pondasi yang perlu segera direalisasikan yaitu terintegrasinya data anggota perpustakaan dengan data mahasiswa dan dosen sehingga mampu mendata karya mahasiswa maupun dosen dengan tertib administrasi. Contohnya dengan melakukan pelatihan akses repositori secara terjadwal dan memberikan formulir persetujuan unggah karya.”Jika pilihan mahasiswa adalah menyetujui full text, maka yang untung sebenarnya adalah mahasiswa itu sendiri untuk temu kembali skripsinya di kemudian hari”, jelas Bapak Amirul yang juga ketua Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi se Jawa Timur ini.

Kedua, ada kerjasama dengan bidang akademik, sehingga Rektor memerintahkan melalui SK untuk mengunggah karya mahasiswa dan dosen. Seperti di Ubaya, bahwa ada SK Rektor berisi menugaskan semua dosen yang memiliki karya lokal maupun internasional harus diunggah di repositori. Jika tidak maka tahun depan tidak akan mendapat dana perjalanan dinas dari pihak keuangan. Lebih mudah, jika semua pihak terintegrasi dalam sistem daring (online).

Agenda penandatanganan pun dilaksanakan di Perpustakaan Ubaya pada 20 Mei 2017. Berikut dokumentasinya:

Foto Bersama.
Foto Bersama.
Ginanjar Kurniawan, Kanan, menandatangani MoU bersama Amirul Ulum, Kiri, UBAYA
Ginanjar Kurniawan, Kanan, menandatangani MoU bersama Amirul Ulum, Kiri, UBAYA
BAGIKAN

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY